sanad keilmuan kh hasyim asy ari
Kunjungidan Call center : Juga : 1. Gus Muwafiq: Kebaikan yang Kita Lakukan Tidak Bisa Berdiri Sendiri https://www.youtube.com/
KH Hasyim Asy'ari merupakan ulama Indonesia yang pada abad kedua puluh terkenal dengan pengajian kitab Shahih al-Bukharinya. Di pesantren Tebuireng, Jombang, setidaknya setiap bulan puasa diadakan pengajian kitab ini hingga khatam. Beliau adalah murid seorang ulama Nusantara terkemuka yang dikenal sebagai ahli fikih dan ahli hadis, yaitu
HasyimAsy'ari. Irhas B September 5, 2016. KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) Punya Sanad ke ilmuan yang bersambung sampai Rasulullah SAW, berikut Sanad nya, dengan cara baca nomer diatas adalah Guru dari nomer dibawah nya. 1. Sayyidul Wujud Insanul Kamil Nabi Muhammad Rasulullah SAW. 2. Al Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib "Karramallaahu
HasyimAsy'ari. "Program Ngaji virtual Mahakarya KH. Hasyim Asy'ari ini merupakan salah satu upaya untuk menyambungkan sanad keilmuan sekaligus bentuk penghormatan terbaik kepada beliau, Mbah KH. Hasyim Asy'ari." Tegas Ketua Aswaja Centre Unwahas. (@iku'_85) O
KHFahmi Amrullah Hadziq, cucu pahlawan nasional KH M Hasyim Asy'ari, menyayangkan bahwa sejarah perjuangan insan-insan pesantren tidak banyak dicatat dalam buku sejarah Indonesia. Resolusi Jihad sebagai fakta sejarah, misalnya, masih belum dikenal generasi masa kini. Fakta itu tetap ada meski fatwa yang dikeluarkan KH Hasyim Asy'ari pada
Site De Rencontre Gratuit Sans Photos. No doubt, Hasyim Asy’ari was known as the one of the most prominent scholar in Indonesia. Beside his role in Indonesia’s independence, his contribution on developing the Islamic education also colors the history of this country through his Pondok Pesantren Tebuireng. As one of the chain of Islamic scholars’ network, he connected path of the Islamic sciences between the Scholars of Nusantara and Middle East. Based on its fact, this article will study his thought on hadith science through his works. This study is important because he has chains of transmition which linked him to the authors of al-Sahihayn and al-Muwatta’ from Mahfuz Tremas. Moreover, until the present time, Pesantren Tebuireng still organize the study of al-Sahihayn in the last Shaban till the last Ramadan. To analyze his thought, here, I will use some of his works which probably represented his method on hadith studies. However, not all of his thought will be covered in this article. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free i Al-ManarJurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 1, No. 1, Jul-Des 2015 Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora IAIN Jember Al-Manar, no. 1, 2015 ii ISSN 2477-6017 Al-Manar Jurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 1, No. 1, Jul-Des 2015 Fakultas Ushuluddin, Adab dan HumanioraInstitut Agama Islam Negeri IAIN Jember SUSUNAN REDAKSI JURNAL AL-MANAR Berdasarkan SK Rektor IAIN Jember No. /2015 Penanggung Jawab Prof. Dr. Babun Suharto, SE., Redaktur Uun Yusufa, Penyunting H. Mawardi Abdullah, Lc., Desain Grafis Dimas Surya Perdana, SST Sekretariat Rhino Sistanto, Agung Pratama Witadi, SE., MM Akrimi Matswah, Makhrus, MA Mochammad Zaka Ardiansyah, Alamat Redaksi Kantor Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora IAIN Jember Jl. Mataram No. 01 Mangli Kaliwates Jember Indonesia Email almanarjurnal iii PEDOMAN TRANSLITERASI DAN SINGKATAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN Konsonan Arab Latin Arab Latin t} b z} t th gh j f h} q kh k d l dh m r n z w s h sh s} yd}Vokal Panjang dan Diftong/Vokal Rangkap a> u> i> aw ay Al-Manar, no. 1, 2015 iv SINGKATAN ed. editor et aliiH. Hijriah Hr. Hadis riwayat ibid. ibidumM. Masehi Qs. Alquran surat ra. rad}iya Alla>h anhusaw. s}alla> Alla>h alayh wa sallamswt. subha>nahu> wa ta’a>la> tanpa penerbit tanpa tahun tanpa tempat terj. terjemah w. wafat v PENGANTAR REDAKSI “Al-Manar” merupakan Jurnal Studi Alquran dan Hadis yang terbit enam bulanan, diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Institut Agama Islam Negeri IAIN Jember. Penerbitan ini dimaksudkan sebagai wahana pemikiran kritis dan terbuka bagi semua kalangan akademisi, agamawan, intelektual dan mahasiswa dengan spesifikasi kajian dan penelitian di bidang studi Alquran dan Hadis. Edisi ini merupakan terbitan berkala melanjutkan jurnal Al-Manar yang sebelumnya diterbitkan pada masa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN Jember. Seiring dengan perubahan status menjadi IAIN Jember, maka tim redaksi memandang perlu memperbarui perwajahan jurnal sehingga mudah dibaca bagi akademisi dan peminat kajian Alquran dan Hadis. Jurnal yang berada di hadapan pembaca ini merupakan wujud dari komitmen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora IAIN Jember dalam membangun komunikasi dan publikasi bersama di bidang akademik. Tulisan yang diturunkan dalam edisi ini pada umumnya membahas tentang kajian Alquran dan hadis kontempores, khususnya di Indonesia. Dalam kajian Alquran, artikel Atik Wartini membahas tentang Tafsir Tematik Kemenag Studi Alquran dan Pendidikan Anak Usia Dini. Lilik Faiqoh dan M Khoirul Hadi al-Asy Ari menyumbang tulisan berjudul Tafsir Tradisi Kultural Jawa Studi Penafsiran Surat Luqma>n Perspektif KH Bisri Musthofa dalam Tafsir al-Ibri>z. Selain itu,Adrika Fithrotul Aini Konstruksi atas Kitab al-Qur´an dan TafsirnyaKementerian Agama RI Edisi Yang Disempurnakan. Untuk memperluas kajian, ditampilkan tulisan dariMuzayyin berjudul Pendekatan Abad XX dalam Studi AlquranPenggunaan dan Dampak dari Pendekatan Kritik Sejarah Terhadap Pemikiran Theodore Noldeke, dan Alfurqon berjudul Urgensi Kaidah Intelektual Seorang Mufasir. Dalam kajian hadis, Mus’idul Millah menulis artikel KH. Hasyim Asy’ari Muh{addith Nusantara. dan Yeni Setianingsih Melacak Pemikiran Kassim Ahmad Tentang Keotentisitasan gading yang tak retak, jurnal ini sangat terbuka dengan saran, masukan, dan kritik yang membangun guna penerbitan selanjutnya yang lebih baik. Redaksi juga menerima sumbangan artikel untuk edisi berikutnya. Terima kasih dan selamat membaca. Jember, Desember 2015 Redaksi Al-Manar, no. 1, 2015 vi DAFTAR ISI Susunan Redaksi ii Pedoman Transliterasi iii Pengantar Redaksi v Daftar Isi vi Atik Wartini Tafsir Tematik Kemenag Studi Alquran dan Pendidikan Anak Usia Dini 1 Lilik Faiqoh dan M Khoirul Hadi al-Asy AriTafsir Tradisi Kultural Jawa Studi Penafsiran Surat Luqma>n Perspektif KH Bisri Musthofa dalam Tafsir al-Ibri>z 40Adrika Fithrotul Aini Konstruksi atas Kitab al-Qur´an dan TafsirnyaKementerian Agama RI Edisi Yang Disempurnakan 82Muzayyin Pendekatan Abad XX dalam Studi Alquran Penggunaan dan Dampak dari Pendekatan Kritik Sejarah Terhadap Pemikiran Theodore Noldeke 106Alfurqon Urgensi Kaidah Intelektual Seorang Mufasir 131Mus’idul Millah KH. Hasyim Asy’ari Muh{addith Nusantara 146Yeni Setianingsih Melacak Pemikiran Kassim Ahmad Tentang Keotentisitasan Hadis 162Lampiran Gaya Selingkung Penulisan Artikel Jurnal al-Manar181 Al-Manar, no. 1, 2015 146 KH. HASYIM ASY’ARI MUH{ADDITH NUSANTARA Mus’idul Millah STAI Syekh Manshur Pandeglang AbstractNo doubt, Hasyim Asy’ari was known as the one of the most prominent scholar in Indonesia. Beside his role in Indonesia’s independence, his contribution on developingthe Islamic education also colors the history of this country through his Pondok Pesantren one of the chain of Islamic scholars’ network, he connected path of the Islamic sciences between the Scholars of Nusantaraand Middle East. Based on its fact, this article will study his thought on hadith science through his works. This study is important because he has chains of transmition which linked him to the authors of al-S{ah}i>h}ayn and al-Muwat}t}a’ from Mah}fu>z} Tremas. Moreover, until the present time, Pesantren Tebuireng still organize the study of al-S{ah}i>h}ayn in the last Shaba>n till the last Ramad}a>n. To analyze his thougth, here, I will use some of his works which probably represented his method on hadith studies. However, not all of his thought will be covered in this article. Key word Hasyim Asyari, Islamic scholars’ network, hadith criticism PENDAHULUAN Sejarah keilmuan Islam di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari jasa para ulama yang belajar ke jazirah Arab. Tidak hanya untukbelajar, di sana mereka juga berhasil membangun jaringan ulama Islam internasional sehingga menjalin mata rantai dalam berbagai cabang keilmuan. Tidak sedikit pula dari mereka yang dapat mengukir prestasi sebagai pengajar di masjid al-H{aram dan masjid al-Nabawi>.132 Dari sekian nama yang tercantum dalam daftar jaringan keilmuan 132 Peta jaringan ulama Nusantara dan dunia Arab pada abad ke-17 dan ke-18 dapat dilihat dalam Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII; Melacak kar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonseia Bandung Mizan, 1994. 147 Islam nusantara, KH. Hasyim Asy’ari133 merupakan salah satu ulama yang kemudian kembali dan berkiprah di tanah air. Keberadaannya di tanah air tidak hanya untuk menyebarkan ilmu yang diperolehnya semasa perantauan, lebih dari itu, dia juga membawa tongkat estafet jaringan keilmuan Islam yang saling menghubungkan satu sama lain. Yang menarik dari Kiai Hasyim adalah bidang keilmuan yang digeluti dan pada akhirnya menjadi kekhasan yang melekat pada dirinya sepulang dari Makkah, yaitu Hadis. Dalam bidang tersebut, Kiai Hasyim mewarisi jalur keilmuan dari KiaiMah}fu>z} Termas w. 1894 yang juga merupakan muridKiai Muh}ammad Nawawi>Banten w. 1897 dan KiaiAh}mad Khat}i>b Sambas w. 1875. Melalui KiaiMah}fu>z}Termas, KiaiHasyim memperoleh sanad tiga kitab hadis yang masuk dalam jajaran kitab sembilan al-kutub al-tisah; S{ah}i>h} al-Bukha>ri>,134S{ah}i>h} Muslim,135 dan al-Muwat}t}a’.136Berangkat dari fakta tersebut, makalah ini akan mengulas pemikiran hadis KiaiHasyim. Pembahasan akan difokuskan pada pemikiran hadis yang dimilikinya, mengingat KiaiHasyim memiliki karya-karya yang mencantumkan hadis yang bersumber dari kitab yang diijazahkan kepadanya. Dari karya-karyanya diharapkan dapat diketahui pemikiran Kiai Hasyim tentang hadis, lebih lanjut, dari hadis-hadis tersebut, diharapkan dapat diketahui pola penyeleksian hadis yang diterapkan KiaiHasyim dalam karya-karyanya. Pada akhirnya, selamat membaca. KH. HASYIM ASY’ARI SEBUAH SKETSA BIOGRAFI Kehidupan Kiai Hasyim mungkin dapat dideskripsikan dalam suatu frasa singkat “dari pesantren, untuk pesantren”. Dia lahir dan tumbuh besar dilingkungan pesantren, bahkan membesarkan nama pesantren. Pengembaraan keilmuannya pun tidak hanya cukup pada satu pesantren tetapi sampai pula ke jazirah Arab yang pada saat itu dipenuhi oleh para pelajar dari Nusantara. 133Untuk selanjutnya, penyebutan diganti menjadi Kiai Hasyim. 134Lihat, Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>Jombang al-Maktabah al-Masru>ri>yah, hlm. H{a>’. 135Lihat, Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. Kha>’. 136Lihat, Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. Dal. Al-Manar, no. 1, 2015 148 Lahir di desa Gedang, pada 24 Zulkaidah 1287/14 Februari 1871 nama lengkapKiai Hasyim adalah Muhammad Hasyim ibn Asy’ari ibn Abdul Wahid ibn Abdul Halim yang juga disebut sebagai Pangeran Benawa ibn Abdur Rahman atau dikenal juga dengan Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya ibn Abdullah ibn Abdul Aziz ibn Abdul Fattah ibn Maulana Ishaq yang juga merupakan ayah dari Rd. Ainul Yaqin atau dikenal dengan Sunan kecil, Kiai Hasyim mendapatkan didikan langsung dari ayahnya hingga kemudian menjelang remaja ia merantau ke berbagai pesantren besar di tanah Jawa dan Madura, seperti Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Trenggilis, kemudian Pesantren Kademangan Bangkalan Madura. Di Bangklan, Kiai Hasyim dididik langsung oleh Kiai Khalil yang juga merupakan guru dari para ulama Nusantara. Di sana, Kiai Hasyim memperdalam ilmu alat, fikih, dan tasawuf selama tiga tahun sebelum akhirnya memfokuskan diri pada kajian fikih di Pesantren Siwalan Sidoarjo selama dua tahun dibawah asuhan Kiai Ya perantauannya ke berbagai pesantren, Kiai Hasyim melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Makkah. Dia menetap selama enam tahun di sana dan berguru beragam bidang ilmu kepada para ulama, semisal Kiai Muh}ammad Nawawi> Banten, KiaiAh}mad Khat}i>b Minangkabau w. 1334 H/1916 M, Syekh Shuayb ibn Abd al-Rah}ma>n, Sayyid Alwi> ibn Ah}mad al-Saqa>f, Sayyid H{usayn ibn Muh}ammad al-H{abshi>, Sayyid Ah}mad ibn H{asan al-At}t}a>s, Sayyid Abu> Bakr At}a>, Syekh S{a>lih} Ba>fad}al, danSyekh Muh}ammad Aliki>. Dalam bidang hadis, Kiai Hasyim mempelajari beragai kitab hadis dari Sayyid Abba>s ibn Abd al-Azi>z al-Ma>liki> al-H{asani> w. 1353. Selain itu, dari sekian guru, Kiai Mah}fuz} memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk karakter dan kecenderungan pemikiran Kiai Hasyim dalam bidang hadis. Hal ini dapat dilihat dalam jalur sanad tiga kitab hadis kanonik yang keseluruhannya diperoleh Kiai Hasyim dari Kiai Mah}fuz} ibn Abd al-Rah}ma>n al-Muallimi>, Ala>m al-Makkiyyi>n Beirut Da>r al-Garb al-Isla>mi>, 2000, vol. I, hlm. 350; Bandingkan, Latiful Khuluq, Hasyim Asy’ari; Religious Thought and Political Activities 1871-1947 Jakarta Logos, 2000, hlm. 23; Ishomuddin Hadziq ed., “al-Tari>f bi al-Mu’allif” dalam Muhammad Hasyim Asy’ari, Ab al-Ama> Yath}ta>j Ilayh al-Mutaallim fi> Ah}wa>l Tali>mih wa ma> Yattafiq Alayh fi> Maqa>ma>t Tali>mih Jombang Maktabat al-Tura>th al-Isla>mi>, 1415 H, hlm. 3. 138Lihat, Zamakhsyari Dhofier, “KH. Hasyim Asy’ari Penggalang Islam Tradisional” dalam Humaidy Abdussami dan Ridwan Fakla AS ed., Biografi 5 Rais Am Nahdlatul UlamaYogyakarta Pustaka Pelajar, 1995, hlm. 7-9; Latiful Khuluq, Hasyim Asy’ari; Religious 149 Akan tetapi, tidak banyak literatur yang menyebutkan bahwa sebenarnya selama di Makkah Kiai Hasyim juga mengenyam pendidikan formal-modern. Di antara sekian banyak gurunya selama merantau di negeri Hijaz, ada satu yang sering kali terlewatkan yaitu Syekh Rah}mat Allah ibn Khali>l al-Uthma>ni> al-Hindi> w. 1308. Beliau adalah pendiri Madrasah al-S{awlati>yah di Makkah yang merupakan lembaga yang melakukan reformasi sistem pendidikan pada saat itu dan kini cabangnya tersebar di penjuru Arab Madrasah ini merupakan madrasah pertama yang alumni-alumninya kemudian menjadi pembesar dan penggerak dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah Kiai Sehingga dari data ini, penulis berasumsi bahwa pemikiran Kiai Hasyim dalam bidang pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh Syekh Rah}mat Allah, bukan Muh}ammad Abduh w. 1905. Setelah dirasa cukup, pada tahun 1314 H Kiai Hasyim pun pulang ke tanah air untuk berkarya dan mengajarkan ilmu yang didapatnya. Selain mendirikan pesantren Tebuireng, Kiai Hasyim juga dikenal sebagai ulama yang produktif. Paling tidak ada 19 karya yang dinisbatkan kepadanya, di antaranya1411. Ada>b al-Alat Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah fi> Baya>n al-Musamma>h bi Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah 3. Al-Tibya>n fi> al-Nahy an Muqa>t}aat al-Arh}a>m wa al-Ikhwa>n 4. Muqaddimat al-Qa>nu>n al-Asa>si> li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’ 5. Risa>lah fi> Ta’akkud al-Akhdh bi Madha>hib al-A’immah al-Arbaah 6. Risa>lah Tusamma> bi al-Mawa>iz} Thought and Political Activities 1871-1947Jakarta Logos, 2000, hlm. 27-28; Ishomuddin Hadziq ed., “al-Tari>f bi al-Mu’allif” dalam Muhammad Hasyim Asy’ari, Ab al-Ama> Yath}ta>j Ilayh al-Mutaallim fi> Ah}wa>l Tali>mih wa ma> Yattafiq Alayh fi> Maqa>ma>t Tali>mih Jombang Maktabat al-Tura>th al-Isla>mi>, 1415 H, hlm. 4. 139Abdullah ibn Abd al-Rah}ma>n al-Muallimi>, Ala>m al-Makkiyyi>n Beirut Da>r al-Garb al-Isla>mi>, 2000, vol. I, hlm. 350-351; Umar Abd al-Jabba>r, Siyar wa Tara>jim Bad} Ulama>’ina>fi> al-Qarn al-Ra>bi Ashar li al-Hijrah Jeddah Tiha>mah, hlm. 108-112;Muh}ammad Ali> Magribi>, Ala>m al-H{ija>z fi> al-Qarn al-Ra>bi Ashar li al-HijrahJeddah Tiha>mah, vol. II, hlm. 298-303. 140Muh}ammad Ali> Magribi>, Ala>m al-H{ija>z fi> al-Qarn al-Ra>bi Ashar li al-Hijrah, vol. II, hlm. 305. 141Lihat, Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. Ba’. Al-Manar, no. 1, 2015 150 7. Al-Arbai>n Hadi>than Nabawi>yan Tataallaq bi Maba>di’ li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’ 8. Al-Nu>r al-Mubi>n fi> Mah}abbat Sayyid al-Mursali>n 9. Ziya>da>t al-Tali>qa>t ala> Manz}u>ma>t al-Shaykh Abd Alla>h Ya>si>n al-Fa>suruwa>ni> 10. Tanbi>ha>t al-Wa>jiba>t li Man Yas}na al-Mawlid bi al-Munkara>t 11. D{aw’ al-Mis}ba>h} fi> Baya>n Ah}ka>m al-Nika>h} 12. Mifta>h} al-Fala>h} fi> Ah}a>di>th al-Nika>h} 13. Awd}ah} al-Baya>n fi> Ma> Yataallaq bi Waz}a>’if Ramad}a>n 14. Abyan al-Niz}a>m fi> Baya>n Ma> Yu’mar bih aw Yunha> anh min Anwa> al-S{iya>m 15. Ah}san al-Kala>m fi> Ma> Yataallaq bi Sha’n al-I’il wa al-Ah}ka>m 16. Irsha>d al-Mu’mini>n ila> Si>rat Sayyid al-Mursali>n 17. Al-Mana>sik al-S{ugra> li Qa>s}id Umm al-Qura> 18. Ja>miat al-Maqa>s}id fi> Baya>n Maba>di’ al-Tawh}i>d wa al-Fiqh wa al-Tas}awwuf li al-Muri>d 19. Risa>lah Tusamma> bi al-Ja>su>s fi> Baya>n Ah}ka>m al-Na>qu>s PETA KEILMUAN HADIS ABAD XIX Abad XIX adalah masa ketika terjadinya benturan dua arus mainstreamantara gerakan tradisionalis dengan gerakan modernis yang menyuarakan agar umat Islam terbebas dari mazhab dan kembali kepada Alquran dan Hasyim tertarik dengan ide pembaharuan, akan tetapi ia tidak sependapat dengan beberapa pemikiran modernis yang gencar dilakukan oleh Jama>l al-Di>n al-Afga>ni>w. 1897 dan Muh}ammad Abduh w. 1905. Inti gagasan Muh}ammad Abduh adalah mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni yang lepas dari pengaruh mazhab dan praktik-praktik luar, reformasi pendidikan Islam di tingkat Universitas, mengkaji dan merumuskan kembali doktri Islam dan mempertahankan Islam. Rumusan-rumusan Muh}ammadAbduh ini dimaksudkan agar umat Islam dapat memainkan kembali peranannya dalam bidang sosial, politik dan pendidikan pada era modern. Untuk itu pula Muh}ammadAbduh melancarkan gagasan agar umat Islam melepaskan diri dari keterikatan pola pikir para pendiri mazhab dan meninggalkan segala praktik tarekat. Ide ini disambut secara antusias oleh para pelajar Indonesia yang berada di Makkah, bahkan mendorong mereka untuk 151 pergi ke Mesir untuk melanjutkan studinya dan mengembangkannya setelah pulang ke tanah inilah yang kemudian disebut oleh Zamakhsyari Dhofier sebagai Islamic Revivalismeyang mempunyai dua karakteristik; pertama, melepaskan diri dari ikatan tetap berpegang pada pola pemikiran mazhab yang empat. Dalam kelompok kedua inilah Kiai Hasyim mempunyai andil besar dalam Hasyim setuju dengan gagasan Muh}ammadAbduh tersebut untuk membangkitkan semangat Islam, tetapi ia tidak setuju dengan hal pelepasan diri dari madzhab. Kiai Hasyim berkeyakinan bahwa tidak mungkin memahami maksud sebenarnya dari Alquran dan Hadis tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang ada dalam sistem mazhab. Menafsirkan Alquran dan Hadis tanpa mempelajari dan meneliti pemikiran para ulama mazhab, maka hanya akan menghasilkan pemutarbalikan ajaran Islam yang sebenarnya. Sementara itu dalam menanggapi seruan Muh}ammadAbduh dan Syekh Ah}mad Khat}i>b agar umat Islam meninggalkan tarekat, maka Kiai Hasyim menyatakan bahwa tidak semua tarekat salah dan bertentangan dengan ajaran Islam, yakni tarekat yang mengarah pada pendekatan diri kepada Allah swt. sehingga tidak semua praktik tarekat ditinggalkan begitu saja. Pergolakan yang terjadi pada saat itu juga,mau tidak mau, berimbas pada kajian hadis. Kaum tradisionalis yang masih menghendaki untuk tetap mengikuti mazhab jelas tidak sejalan dengan kaum modernis yang lebih menginginkan kajian langsung dari sumbernya baik Alquran maupun Hadis. Kelompok kedua, dengan gerakan pembaharuannya, jelas tidak begitu mengindahkan tradisi bermazhab yang sangat memperhatikan kesinambungan mata rantai keilmuan. 142Lihat, Zamakhsyari Dhofier, “KH. Hasyim Asy’ari Penggalang Islam Tradisional” dalam Humaidy Abdussami dan Ridwan Fakla AS ed., Biografi 5 Rais Am Nahdlatul Ulama, hlm. 7-8. 143Zamakhsyari Dhofier, “KH. Hasyim Asy’ari Penggalang Islam Tradisional” dalam Humaidy Abdussami dan Ridwan Fakla AS ed., Biografi 5 Rais Am Nahdlatul Ulama, hlm. 6. Al-Manar, no. 1, 2015 152 PEMIKIRAN DAN KECENDERUNGAN STUDI HADIS KH. HASYIM ASY’ARI Sunah dan Bidah Sunah menurut Kiai Hasyim, sebagaimana ia kutip dari Abu> al-Baqa>’, diartikan sebagai segala sesuatu yang sesuai dengan ketentuan syariat yang dilakukan oleh Rasulullah saw. atau lainnya, yaitu mereka yang memiliki pengetahuan mendalam dalam urusan agama seperti para Adapun bidah, Kiai Hasyim memilih pendapat syekh Zaru>q dengan menyatakan bahwa segala inovasi keagamaan yang dibuat seolah-olah merupakan bagian dari agama baik secara formal maupun yang ditawarkan Kiai Hasyim, mengingatkan kecenderungan pemikiran hadis klasik era Ma>lik ibn Anas w. 179 yang menerima dan menganggap praktik keagamaan selain dari Nabi saw. baik sahabat, tabiin, bahkan tradisi masyarakat sebagai sunah. Hal tersebut tentu berbeda dengan generasi al-Sha>fii> w. 204 yang dengan tegas memberikan batasan bahwa sunah hanyalah periwayatan yang otentik berasal dari Nabi tetapi, tidak semua periwayatn kemudian dapat diterima begitu saja. Kiai Hasyim memiliki tiga kriteria dalam menyeleksi sunah; pertama, hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Kedua, sesuai dengan kaidah dan metode para ulama. Ketiga, dapat didukung dan diukur dengan parameter ketiga kriteria ini tampak bahwa Kiai Hasyim tidak begitu saja menerima periwayatan atau “inovasi” tanpa ditelusuri asal-usul dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Bahkan dalam perkembangannya, selama “inovasi” tersebut tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, Kiai Hasyim menerimanya. 144Muhammad Hasyim Asy’ari, Risa>lat Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah fi> H{adi>th al-Mawta> wa Ashra>t} al-Sa>ah wa Baya>n Mafhu>m al-Sunnah wa al-Bidah Jombang Maktabat al-Tura>th al-Isla>mi>, 1418H, hlm. 5; Lihat juga, Abu> al-Baqa>’ al-Kafawi>, Kita>b al-Kulli>ya>t Beirut Mu’assasat al-Risa>lah, 1998, vol. I, hlm Hasyim Asy’ari, Risa>lat Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah fi> H{adi>th al-Mawta> wa Ashra>t} al-Sa>ah wa Baya>n Mafhu>m al-Sunnah wa al-Bidah, hlm. 6. 146Lihat,Abd al-Rah}ma>n ibn Abi> H{a>tim al-Ra>zi>, Ab al-Sha>fii> wa-Mana>qibuhBeirut Da>r al-Kutub al-Ilmi>yah, 2003, hlm. 177; Abd al-Gani> al-Daqar, al-Ima>m al-Sha>fii> Faqi>h al-Sunnah al-Akbar Damaskus Da>r al-Qalam, 1996, hlm. 207. 147Muhammad Hasyim Asy’ari, Risa>lat Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah fi> H{adi>th al-Mawta> wa Ashra>t} al-Sa>ah wa Baya>n Mafhu>m al-Sunnah wa al-Bidah, hlm. 6-7. 153 bi al-A’immah al-Arbaah Untuk membaca pemikiran hadis Kiai Hasyim, memang tidak ada karya khusus yang membahas kajian Ilmu Hadis secara khusus sebagaimana yang telah dilakuakn oleh gurunya, Shaykh Mahfuz Termas. Tetapi jika diperhatikan, Kiai Hasyim memiliki cukup banyak karya yang mencantumkan banyak hadis yang dapat dijadikan cerminan pemikiran dan keenderungan pemikiran hadis beliau. Sebut saja semisal kitab al-Arbai>n Hadi>than Nabawi>yan Tataallaq bi Maba>di’ li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’ yang mengimpun empat puluh hadis prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama. Di dalamnya dapat dengan mudah ditemui berbagai hadis dengan berbagai sumber periwayatan, seperti al-Bukha>ri>, Muslim, Abu> Da>wu>d, al-Tirmiz}i>, Ibn H{ibba>n, al-T{abra>ni>, al-Da>ruqut}ni>, Ibn Abi> al-Dunya>, al-Bagawi>, al-Bazza>r, Abu> Nuaym, Ah}mad ibn H{anbal, dan al-Bayhaqi>.148 Melihat tradisi ulama pada saat itu, dapat dipastikan bahwa Kiai Hasyim memiliki jalur otoritas periwayatan hadis-hadis yang ada dalam kitab tersebut. Mengingat dengan tegas Kiai Hasyim menyatakan Mazhab-mazhab yang dapat diikuti tidak hanya terbatas pada imam mazhab yang empat, akan tetapi masih ada para ulama lainnya yang mempunyai mazhab yang juga diikuti, seperti mazhab Sufya>n, mazhab Ish}a>q ibn Ruh}awayh, Da>wu>d al-Z{a>hiri> dan al-Awzai>. Meskipun demikian, sudah ditegaskan bagi orang-orang yang menjadi komunitas kita, bahwa tidak diperkenankan untuk bertaklid kecuali pada imam mazhab yang empat. Mereka beralasan, karena pandangan mazhab yang lain tidak bisa dipercaya, khususnya sanad-sanad yang dimungkinkan diubah dan pernyataan di atas jelas bahwa Kiai Hasyim betul-betul memperhatikan kesinambungan otoritas keilmuan, dalam hal ini sanad dianggap sebagai media yang cukup kuat dalam menjaga ketersambungan jalur keilmuan selama ini. Sikap Kiai Hasyim tentu tidak terlepas dari pengaruh kondisi yang melingkupinya selama di jazirah Arab. Sebagaiana diketahui bahwa pada saat itu ada tren akademik membuat buku khusus yang berisi 148Lihat lebih lanjut, Muhammad Hasyim Asy’ari, “al-Arbai>n Hadi>than Nabawi>yan Tataallaq bi Maba>di’ li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’” dalam Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>. 149Hasyim Asy’ari, “Risa>lah fi> Ta’akkud al-Akhdh bi Madha>hib al-A’immah al-Arbaah” dalam Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. 30-31. Al-Manar, no. 1, 2015 154 tentang jalur periwayatan berbagai macam kitab yang dipelajari, seingga dalam hal ini ada dua kemungkinan; pertama, adanya “gengsi” akademik. Kedua, adanya upaya pelestarian kesinambungan otoritas keilmuan. Sikap Kiai Hasyim tersebut jelas memiliki konsekuensi metodologis dalam kajian hadis. Sehingga orientasi keilmuan Kiai Hasyim dalam bidang hadis bukanlah untuk melakukan kritik periwayatan, tetapi lebih kepada upaya melanjutkan estafet periwayatan keilmuan. Hal ini tentu berbeda dengan gurunya Kiai Mah}fu>z} Termas yang memang seorang akademisi murni. Keilmuan Studi Hadis Dalam kajian hadis, sebagai representasi kaum tradisionalis, Kiai Hasyim memang tidak memfokuskan diri pada kajian kritik hadis sebagaimana yang dilakukan kaum modernis pada saat itu. Kiai Hasyim lebih memfokuskan diri pada transformasi keilmuan hadis. Hal ini dapat kita lihat dari perhatian beliau terhadap kajian hadis dengan tetap melestarikan sanad keilmuan. Sanad S{ah}i>h} al-Bukha>ri> milik Kiai Hasyimdapat diuraikan sebagai berikut Qad ittas}alat ilayna> riwa>yat S{ah}i>h} al-Bukha>ri>sima>an min awwalihi ila> a>khirihi an Shaykhina> al-Alla>mah Muh}ammad Mah}fu>z} ibn Abd Alla>h al-Ja>wi> thumma al-Makki>, qara’tu alayhi min awwal sanah 1317 ila> 1319 bi Makkah al-Musharrafah wa aja>zani> bi qira>’atihi kama> aja>zani> bi qira>’at gayrihi min kutub al-h}adi>th an shaykhih al-Sayyid Abi> Bakr ibn Muh}ammad Shat}a> al-Makki>an al-Sayyid Ah}mad Zayni> Dah}la>n an al-Shaykh Uthma>n ibn H{asan al-Dimya>t}i>an al-Shaykh Muh}ammad ibn Ali> al-Shinwa>ni>an I ibn Ah}mad al-Bara>wi>an al-Shaykh Ah}mad al-Dafri>an al-Shaykh Sa>lim ibn Abd Alla>h al-Bas}ari>an Wa>lid Abd Alla>h ibn Sa>lim al-Bas}ari>an al-Shaykh Muh}ammid ibn Ala>’ al-Di>n al-Ba>bili>an al-Shaykh Sa>lim ibn Muh}ammad al-Sanhu>ri>an al-Najm Muh}ammad ibn Ah}mad al-Gayt}i>an Shaykh al-Isla>m Zakariya> ibn Muh}ammad al-Ans}a>ri>an al-Ha>fiz} Ah}mad ibn Ali> ibn H{ajar al-Asqala>ni>an Ibra>hi>m ibn Ah}mad al-Tanu>khi>an Abi> al-Abba>s Ah}mad ibn Abi> T{a>lib al-H{ija>z an al-H{usayn ibn al-Muba>rak al-Zabi>di> al-H{anbali>an Abi> al-Waqt Abd al-Awwal ibn I al-Sah}azi>an Abi> al-H{usayn Abd al-Rah}ma>n ibn Muz}far ibn Da>wu>d al-Da>wu>di>an Abi> Muh}ammad Abd Alla>h ibn Ah}mad al-Sarkha>si>an Abi> Abd Alla>h ibn Muh}ammad ibn Yu>suf al-Farbari>an Ja>miihi al-Ima>m Abi> Abd Alla>h Muh}ammad ibn Isma>i>l al-Bukha>ri> ibn Ibra>hi>m ibn al-Mugi>rah ibn Bardizbah rahimah Alla>h wa nafaana> bihi> wa bi ulu>mihi a>mi> Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. H{a>’. 155 Sanad S{ah}i>h} Muslim milik Kiai Hasyim adalah sebagai berikut Qad ittas}alat ilayna> riwa>yat S{ah}i>h}Muslim sima>anlibad}ih wa ija>zatan li ba>qi>h an Shaykhina> al-Alla>mah Muh}ammad Mah}fu>z} ibn Abd Alla>h an shaykhih al-Sayyid Abi> Bakr bi sanadih ila> al-Shaykh al-Bara>wi>an al-Shaykh Ah}mad ibn Abd al-Fatta>h} al-Malawi>an al-Shaykh H{asan al-Ku>di>an Ah}mad ibn Muh}ammad al-Qisha>shi>an al-Shams Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ramli>an al-Zayni> Zakariya> al-Ans}a>ri>an Abd al-Rah}i>m ibn al-Fura>t an Muh}ammad ibn Khali>fah al-Dimashqi>an al-H{a>fiz} Abd al-Mu’min ibn Khalaf al-Dimya>t}i>an Abi> al-H{asan al-Mu’ayyad ibn Muh}mmad al-T{u>si>an Abi> Abd Alla>h Muh}ammad ibn al-Fad}l al-Fara>wi>an Abd al-Ga>fir ibn Muh}ammad al-Fa>risi>an Abi> Ah}mad Muh}ammad al-Julu>di>an Abi> Ish}a>q Muh}ammad ibn Sufya>n al-Faqi>h al-Naysa>bu>ri>an al-Ima>m al-H{a>fiz} Abi> al-H{usayn Muslim ibn al-Hajja>j ibn Muslim al-Qushayri> al-Naysa>bu>ri> rad}iya Alla>h taa>la> anhum wa nafaana> Muwat}t}a’ Ma>lik milik Kiai Hasyim adalah sebagai berikut Faqadh}as}alat lana> riwa>yah wa ija>zah bi qira>’at Muwat}t}a’ al-Ima>m Ma>lik an Shaykhina> Muh}ammad Mah}fu>z} ibn Abd Alla>h anal-Sayyid Ami>n al-Madani>an al-Shaykh Abd al-Gani> ibn Abi> Sai>d al-Umri>an wa>lidih Abi> Sai>d al-Umri>an Abd al-Azi>z ibn Ah}mad al-Umri>an wa>lidih Ah}mad ibn Abd al-Rah}i>m al-Umri>an Muh}ammad Wafd Alla>h al-Makki>an al-H{asan ibn Ali> al-Aji>mi>an Abd Alla>h ibn Sa>lim al-Bas}ari>an al-Shaykh I al-Magribi>an al-Shaykh Sult}a>n ibn Ah}mad al-Miza>h}i>an Ah}mad ibn Khali>l al-Subki>an al-Najm Muh}ammad ibn Ah}mad al-Gayt}i>an al-Sharaf Abd al-H{aqq al-Sinba>t}i>an al-Badr H{usayn ibn H{usayn an Muh}ammad ibn Ja>bir al-Wada>shi>an Abi> Muh}ammad Abd Alla>h ibn Ha>ru>n al-Qurt}u>bi>an al-Qa>d}i> Abi> al-Qa>sim Ah}mad ibn Yazi>d al-Qurt}u>bi>an Muh}ammad ibn Abd al-Rah}ma>n ibn Abd al-H{aqq al-H{azraji>an Abi> Abd Alla>h Muh}ammad ibn Faraj mawla> Abi T{alla> an Abi> al-Wali>d Yu>nus ibn Abd Allah ibn Mugi>th al-S{affa>r an Abi> I Yah}ya> Abi> Abd Alla>h ibn Yah}ya>an amm abi>h Abi> Marwa>n Ubayd Alla>h ibn Yah}ya>an abi>h Yah}ya> ibn Yah}ya> al-Laythi>an Imam Da>r al-Hijrah al-H{a>fiz} al-H{ujjah Ma>lik ibn Anas al-As}bah}i> rad}iya Alla>h anhum wa nafaana> Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. Kha>’. 152Lihat, Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>, hlm. Da>l. Al-Manar, no. 1, 2015 156 Perlu dicermati juga bahwa mata rantai tersebut merupakan periwayatan kitab, bukan periwayatan hadis sebagaimana yang dilakukan oleh para mukharrij. Sehingga persyaratan yang berkaitan dengan kredibilitas “periwayat” tidak menjadi persoalan penting. Meski demikian, kaidah dalam tradisi peiwayatan hadis pada umumnya tetap dijaga. Dari tiga rangkaian sanad kitab di atas, ada asumsi awal bahwa kesemuanya diperoleh dengan cara bandongan sima>.153Namun jika diperhatikan dengan seksama, ketiga sanad Kiai Hasyim memiliki perbedaan karakter dan pola yang mendasar satu sama lain. Pertama, pola sanad kitab S{ah}i>h} al-Bukha>ri> diriwayatkan dengan formula tah}ammul “sima>an min awwalihi ila> a>khirihi an...” yang menunjukkan bahwa kitab tersebut memang disampaikan oleh Kiai Mahfuz}kepada Kiai Hasyim secara utuh dari awal hingga akhir. Kiai Hasyim juga menyetorkan bacaannya sorogan kepada Kiai Mahfuz} yang diindikasikan dari pernyataannya “qara’tu alayhi...”.154Barulah kemudian Kiai Hasyim melengkapi periwayatan sanadnya dengan formulaija>zah155 “wa aja>zani> bi qira>’atihi kama> aja>zani> bi qira>’at gayrihi min kutub al-h}adi>th”. Pernyataan terakhirnya mengindikasikan dua kemungkinan, 1 pola transformasi ija>zahsanad pada saat itu sama antara seorang guru satu dengan yang lainya. 2 bacaan yang diriwayatkan dari Kiai Mahfuz} sama dengan yang diriwayatkan dari guru-guru yang lain. Kedua, pola periwayatan sanad kitab S{ah}i>h} Muslimmilik Kiai Hasyim hampir sama dengan sanad S{ah}i>h} al-Bukha>ri>. Keduanya sama-sama diperoleh 153Al-Sima> merupakan proses tah}ammul penerimaan tertinggi dalam kegiatan periwayatan dengan cara murid mendengarkan langsung apa yang disampaikan oleh gurunya. Lihat, al-Khat}i>b al-Bagda>di>, Kita>b al-Kifa>yah fi> Ilm al-Riwa>yah hlm. 52-53; Nu>r al-Di>n Itr, Manhaj al-Naqd fi> Ulu>m al-H{adi>th Beirut Da>r al-Fikr, 1979, hlm. 214; An bint al-Sha>ti’ ed., Muqaddimah Ibn al-S{ala>h} wa Mah}a>sin al-Is}t}ila>h}Kairo Da>r al-Maa>rif, 1989, hlm. 316. 154Proses ini sering disebut dengan al-Qira>’ah ala> al-Shaykh atau al-Ard}, yaitu proses periwayatan dengan cara murid membacakan materi periwayatan kepada seorang guru baik berupa hafalan maupun catatan tertulis yang dimiliki oleh murid. Lihat, An bint al-Sha>ti’ ed., Muqaddimah Ibn al-S{ala>h} wa Mah}a>sin al-Is}t}ila>h}, hlm. 318-319; Nu>r al-Di>n Itr, Manhaj al-Naqd fi> Ulu>m al-H{adi>th, hlm. 214. 155Al-Ija>zah merupakan legalitas yang diberikan seorang guru kepada muridnya untuk meriwayatkan suatu hadis, satu kitab atau bahkan beberapa kitab sekaligus meski tanpa melalui proses al-Sima> dan al-Ard}. Lihat, An bint al-Sha>ti’ ed., Muqaddimah Ibn al-S{ala>h} wa Mah}a>sin al-Is}t}ila>h}, hlm. 331-332; Nu>r al-Di>n Itr, Manhaj al-Naqd fi> Ulu>m al-H{adi>th, hlm. 215. 157 dengan cara sima> juga ija>zah, akan tetapi Kiai Hasyim memberikan keterangan yang berbeda tentang sanad kitab yang satu ini. Proses transformasi kitab ini tidak sama persis seperti kitab S{ah}i>h} al-Bukha>ri> sebelumnya. Kiai Hasyim mengindikasikan bahwa kitab ini tidak sepenuhnya disampaikan secara utuh. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya “...sima>anlibad}ih wa ija>zatan li ba>qi>h an...”, yang menunjukkan bahwa Kiai Hasyim hanya memperoleh sebagian isi kitab ini melalui cara sima>sedangkan sisanya diperoleh melalui ija>zah. Pola kedua ini bisa jadi juga lazim dilakukan. Faktor keterbatasan waktu belajar dan mengikuti pengajian, bisa jadi faktor umum yang terjadi, atau dimungkinkan pula penyingkatan masa tempuh belajar dikarenakan banyaknya kemiripan karakter dan isi antara kitab S{ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S{ah}i>h} Muslim. Ketiga, pola periwayatan sanad kitabal-Muwat}t}a’ benar-benar berbeda dari dua kitab sebelumnya. Kiai Hasyim sama sekali tidak menyebutkan formula tah}ammul “sima>an” sebagaimana yang ditampilkan pada sanad dua kitab Hasyim hanya mencantumkan formula ija>zah dengan menyatakan “faqad h}as}alat lana> riwa>yah wa ija>zah bi qira>’at Muwat}t}a’ al-Ima>m Ma>lik an...”. Sekilas, pernyataan Kiai Hasyim menunjukkan pola periwayatan lain, yaitu sorogan qira>’ah. Tetapi jika diperhatikan lebih lanjut, karena kata qira>’attersebut sama sekali tidak menunjukkan proses tah}ammul. Hal tersebut dapat dipastikan mengingat kata qira>’at dalam sanad Kiai Hasyim disandingkan dengan kata an, sedangkan proses sorogan menggunakan kombinasi qira>’ahdan ala>. Dengan demikian, proses periwayatan kitab al-Muwat}t}a’ memang tidak dijalani sebagaimana periwayatan S{ah}i>h} al-Bukha>ri>dan S{ah}i>h} Muslim. Sanad periwayatan kitab al-Muwat}t}a’ bukanlah simbol perolehan yang ditempuh melalui proses panjang, tetapi merupakan legalisasi pengajaran isi kitab yang diberikan kepada Kiai Hasyim. Bisa jadi Kiai Hasyim tidak pernah mengkaji kitab ini secara khusus akan tetapi beliau diberi otoritas untuk mengjarkannya, baik dikarenakan senioritas, adanya kesamaan materi antara al-Muwat}t}a’ dengan dua kitab sebelumnya, dan bahkan karena kematangan Kiai Hasyim secara keilmuan. Dari pembacaan atas karakter dan pola periwayatan tiga kitab hadis di atas, tampak bahwa sanad yang paling ketat adalah sanad periwayatan S{ah}i>h} al-Bukha>ri> karena melalui proses panjang dan utuh, mulai dari sima>, qira>’at ala>al-shaykh, dan ija>zah. Disusul kemudian sanad S{ah}i>h} Muslim yang Al-Manar, no. 1, 2015 158 diperoleh melalui proses sima> danija>zah dengan berbagi porsi, dan terakhir sanad al-Muwat}t}a’ yang diberikan hanya melalui proses ija>zah. Ketiga pola tersebut, tampaknya merupakan pola yang populer dilakukan pada saat kitab semacam itu memang tidak semata berorientasi untuk melakukan validasi dan otentivikasi hadis, tetapi lebih kepada transformasi dan pengakuan otoritas pengajaran. Hingga kini,hal tersebut masih dapat disaksikan lewat tradisi pengijazahan kitab kuning yang biasa diakukan di pesantren. Akademik; dari Makkah ke NusantaraRantai keilmuan tiga kitab yang tergabung dalam jajaran al-kutub al-tisah tidak lantas berhenti pada Kiai Hasyim. Sepulang dari Makkah,Kiai Hasyim mengadakan pengajian S{ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S{ah}i>h} Muslim yang sampai sekarang masih dilestarikan di Pesantren Tebuireng. Setiap tahunnya kegiatan dimulai pada tanggal 15 Syakban dan berakhir pada tanggal 27 Ramadan. Sejak pertama kali digelar, pengajian tersebut merupakan salah satu pengajian favorit yang dilakukan pada bulan Ramadan. Tidak terkecuali, para ulama dari berbagai penjuru daerah di tanah air berdatangan untuk mempelajari kedua kitab dalam bidang hadis tersebut. Masyhurlah Kiai Hasyim sebagai ulama ahli hadis Nusantara, bahkan KH. Khalil Bangkalan yang menjadi gurunya rela untuk berguru kepada Kiai sekian banyak karya tulisnya, Kiai Hasyim juga memiliki satu karya apik yang berkaitan langsung dengan kajian hadis, al-Arbai>n Hadi>than Nabawi>yan Tataallaq bi Maba>di’ li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’. Kitab yang mengusung genre Arbai>n yang ditulis Kiai Hasyim tidak seperti kitab-kitab Arbai>n pada umumnya. Arbai>nmilik Kiai Hasyim cenderung berisi hadis-hadis yang singkat dengan permotongan rawi-rawi hadis termasuk sahabat, beliau hanya mencantumkan mukharrijdi setiap akhir hadis. Sesuai judulnya, kitab ini tampaknya diperuntukkan sebagai acuan bagi Nahdlatul Ulama, bukan pembenaran eksistensi Nahdlatul saat ini, otoritas pemberi sanad melalui jalur Kiai Hasyim berada pada tingkatan ke-28 yang dipegang oleh Kiai Habib. Kiai Hasyim sendiri 156Zuhairi Misrawi, Hadratussyaihk Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan Jakarta KOMPAS, 2010, hlm. 68157Lihat lebih lanjut,Hasyim, Asy’ari. “al-Arbai>n Hadi>than Nabawi>yan Tataallaq bi Maba>di’ li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’” dalam Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>Jombang al-Maktabah al-Masru>ri>yah, 159 berada pada tingkatan ke-26, sedangkan tingkatan ke-27 dipegang oleh al-marh}u>m Kiai Idris. Pembacaan kitab diselesaikan dalam dua kali majlis tahunan, sehingga tiap tahunnya hanya menyelesaikan separuh dari isi agak janggal ketika ternyata setelah dihitung ulang Kiai Hasyim menempati t}abaqah ke-22 pada sanad S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, t}abaqah ke-20 pada sanad S{ah}i>h} Muslim, dan t}abaqah ke-24 pada sanad al-Muwat}t}a’. KESIMPULAN Sebagai ulama Nusantara, Kiai Hasyim merupakan salah satu tokoh yang membawa jaringan keilmuan internasional dalam bidang hadis yang otoritatif. Guru-guru yang otoritatif juga mengantarkan Kiai Hasyim untuk masuk ke dalam jaringan keilmuan hadis yang patut diperhitungkan. Namun demikian, karakter dan kecenderungan Kiai Hasyim dalam studi hadis tidak diorientasikan pada kajian kritik hadis, melainkan pelestarian transformasi keilmuan hadis. Hal tersebut dapat dipahami mengingat pada saat itu Kiai Hasyim berada pada himpitan kaum modernis yang sedang digencarkan di Mesir dengan gerakan pemurnian dan pembebasan diri dari mazhab, di samping itu Dengan sikap seperti itu, Kiai Hasyim telah menghubungkan jaringan keilmuan hadis Nusantara dengan dunia Timur Tengah, karena sampai saat ini kegiatan pengajian Sahih al-Bukhari dan Muslim masih diselenggarakan di Pesantren Tebuireng. DAFTAR PUSTAKA al-Bagda>di>, al-Khat}i>b. Kita>b al-Kifa>yah fi> Ilm al-Riwa>yah. Abdussami, Humaidy dan Ridwan Fakla AS ed..Biografi 5 Rais Am Nahdlatul Ulama. Yogyakarta Pustaka Pelajar, 1995. 158Korespodensi singkat dilakukan dengan Lutfi Fachrur Rozi Bahruddin melalui media jejaring sosial Facebook, juga dengan Gus_Sholah melalui Twitter pada tanggal 22 Maret 2012. Al-Manar, no. 1, 2015 160 al-Daqar, Abd al-Gani>.al-Ima>m al-Sha>fii> Faqi>h al-Sunnah al-Akbar. Damaskus Da>r al-Qalam, 1996. al-Jabba>r, Umar wa Tara>jim Bad} Ulama>’ina> fi> al-Qarn al-Ra>bi Ashar li al-Hijrah. Jeddah Tiha>mah, al-Baqa>’.Kita>b al-Kulli>ya>t. Beirut Mu’assasat al-Risa>lah, 1998. al-Ra>zi>, Abd al-Rah}ma>n ibn Abi> H{a>tim. Ab al-Sha>fii> wa-Mana>qibuh. Beirut Da>r al-Kutub al-Ilmi>yah, 2003. al-Sha>ti’, An bint ed..Muqaddimah Ibn al-S{ala>h} wa Mah}a>sin al-Is}t}ila>h}. Kairo Da>r al-Maa>rif, 1989. Asy’ari,Hasyim. “al-Arbai>n Hadi>than Nabawi>yan Tataallaq bi Maba>di’ li Jami>yat Nahd}at al-Ulama>’” dalam Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>. Jombang al-Maktabah al-Masru>ri>yah, __________. “Risa>lah fi> Ta’akkud al-Akhdh bi Madha>hib al-A’immah al-Arbaah” dalam Ishomuddin Hadziq ed., Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>. __________. Ab al-Ama> Yath}ta>j Ilayh al-Mutaallim fi> Ah}wa>l Tali>mih wa ma> Yattafiq Alayh fi> Maqa>ma>t Tali>mih. Jombang Maktabat al-Tura>th al-Isla>mi>, 1415 H. __________. Risa>lat Ahl al-Sunnah wa al-Jama>ah fi> H{adi>th al-Mawta> wa Ashra>t} al-Sa>ah wa Baya>n Mafhu>m al-Sunnah wa al-Bidah. Jombang Maktabat al-Tura>th al-Isla>mi>, 1418 H. Azra, Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII; Melacak kar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonseia. Bandung Mizan, 1994. Hadziq,Ishomuddin ed..Irsha>d al-Sa>ri> fi> Jam Mus}annafa>t al-Shaykh Ha>shim Ashari>. Jombang al-Maktabah al-Masru>ri>yah, Itr, Nu>r al-Di>n. Manhaj al-Naqd fi> Ulu>m al-H{adi>th. Beirut Da>r al-Fikr, 1979. 161 Khuluq, Latiful. Hasyim Asy’ari; Religious Thought and Political Activities 1871-1947. Jakarta Logos, 2000. Magribi>, Muh}ammad Ali>. Ala>m al-H{ija>z fi> al-Qarn al-Ra>bi Ashar li al-Hijrah. Jeddah Tiha>mah, Misrawi,Zuhairi. Hadratussyaihk Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan. Jakarta KOMPAS, 2010. Bahruddin,Lutfi Fachrur melalui media jejaring sosial Facebook, pada tanggal 22 Maret 2012. Wahid, Shalahuddin. Korespondensi melaluiakun Twitter Gus_Sholah, pada tanggal 22 Maret 2012. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this n Hadi> than Nabawi> yan Tata'allaq bi Maba> di' li Jam'i> yat Nahd} at al-'Ulama>Hasyim Asy'ariAsy'ari,Hasyim. "al-Arba'i> n Hadi> than Nabawi> yan Tata'allaq bi Maba> di' li Jam'i> yat Nahd} at al-'Ulama> '" dalam Ishomuddin Hadziq ed., Irsha> d al-Sa> ri> fi> Jam' Mus} annafa> t al-Shaykh Ha> shim Ash'ari>. Jombang al-Maktabah al-Masru> ri> yah, Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII; Melacak kar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di IndonseiaAzyumardi AzraAzra, Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII; Melacak kar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonseia. Bandung Mizan, melalui media jejaring sosial Facebook, pada tanggal 22 MaretLutfi BahruddinFachrur RoziBahruddin,Lutfi Fachrur melalui media jejaring sosial Facebook, pada tanggal 22 Maret 2012.
As-sanadu minad dîn. Sanad adalah bagian dari agama. Jika saja tiada sanad maka seseorang bisa berpendapat semaunya. Demikianlah pendapat Abdullah bin Mubarak. Jadi sanad inilah yang membedakan antara keilmuan agama Islam dan keilmuan awal masa perkembangan Islam, sanad diberlakukan hanya dalam periwayatan Al-Qur’an dan Hadits. Namun pada masa belakangan, sanad juga digunakan dalam periwayatan kitab-kitab karya ulama Muhammad Hasyim Asy’ari adalah orang pertama yang menyelenggarakan kajian hadits dan juga tradisi sanad di Indonesia. Demikian sebagaimana pernah dijelaskan KH M Tolchah Hasan dalam suatu kesempatan bedah pemikiran KH Hasyim Asy’ari di Universitas Islam Malang pada tahun Tolchah juga menjelaskan, KH Hasyim Asy’ari membawa tradisi sanad ini dari Syekh Mahfud Termas. Kita mengetahui bahwa Syekh Mahfud Termas, sebagaimana dijelaskan sejarawan Abdurrahman Mas’ud dalam bukunya “Intelektual Pesantren”, adalah pemegang sanad terakhir the last link demikian, bukan berarti bahwa KH Hasyim Asy’ari hanya mendapatkan sanad Sahih Bukhari saja dari Syekh Mahfud, melainkan juga sanad Kutubus Sittah. Juga sanad kitab-kitab lain termasuk kitab-kitab fiqih Madzahib Arba’ah Mazhab Empat. Jadi pantaslah jika Nahdlatul Ulama menyatakan dirinya bermazhab kepada salah satu imam ini kami sajikan sanad kitab Sunan Abi Dawud yang ditulis oleh Al-Imam Al-Hafidh Abi Dawud Sulaiman bin Asy’ats As-Sajistani radliyallahu anhu. Kitab ini juga adalah salah satu kitab yang banyak dikaji di KIfâyatul Mustafid li Mâ alâ minal Asânid karya Syekh Mahfudh At-Tirmisi memaparkan rantai sanad tersebut. Terkait kitab Sunan Abi Dawud, KH Hasyim Asy’ari mendapatkan hadits dan ijazahnya dariSyekh Mahfudh At-Tirmisi, beliau mendapatkan dariSyekh Sayyid Muhammad Amin Al-Madani, beliau mendapatkan dariSyekh Abdul Ghani bin Abi Sa’id Al-Umari w. 1296 H, beliau mendapatkan dariSyekh Abid Al-Anshari w. 1257 H, beliau mendapatkan dariSayaikh Abdirrahman bin Sulaiman Al-Ahdal 1250 H, beliau mendapatkan dariAyahnya, yiatu Sayyid Sulaiaman bin Yahya Al-Ahdal 1197 H, beliau mendapatkan dariSayyid Ahmad bin Maqbul Al-Ahdal w. 1163 H, beliau mendapatkan dariSayyid Yahya bin Umar Al-Ahdal w. 1147 H, beliau mendapatkan dariSayyid Abi Bakar bin Ali Al-Ahdal, beliau mendapatkan dariSayyid Yusuf bin Muhammad Al-Ahdal, beliau mendapatkan dariSayyid Thahir bin Husain Al-Ahdal, beliau mendapatkan dariAl-Hafidh Abdurrahman bin Ali Ad-Dayba’ As-Syaibani, beliau mendapatkan dariAz-Zain As-Syarji, beliau mendapatkan dariSulaiman bin Ibrahim Al-Alawi, beliau mendapatkan dariAli Abi Bakar bin Syaddad, beliau mendapatkan dariAbil Abbas Ahmad bi Abil Khair As-Syamakhy, beliau mendapatkan dariAyahnya, yakni Syekh Abil Khair As-Syamakhi beliau mendapatkan dariSulaiman bin Aqil Al-Asqalani, beliau mendapatkan dariNashr bin Abil Faraj, Al-Hashari, beliau mendapatkan dariAn-Naqib Abi Thalib ibn Zaid Al-Alawi, beliau mendapatkan dariAbi Ali At-Tustari, beliau mendapatkan dariAl-Qasim bin Ja’far Al-Hasyimi, beliau mendapatkan dariAbi Ali Muhammad bin Ahmad Al-lu’lu’iy, beliau mendapatkan dariAl-Imam Al-Hafidh Abi Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sajistani. Penyusun kitab Sunan Abi Ahmad Nur Kholis, Alumni Pascasarjana Universitas Islam Malang Unisma
sanad keilmuan kh hasyim asy ari